Berbakti Kepada Orang Tua Yang Sudah Meninggal
(Bagaimana caranya)
dibawah ini sebuah kisah untuk para sahabat yang bertanya
kepada kami Bagaimana cara berbakti kepada orang tua kita yang sudah
meninggal………….
Parto masih tertunduk lemas, bukan karena memikirkan lesu
bisnis angkudesnya namun lemas karena merasa belum berbakti kepada orang
tuanya, khususnya ibunya. Saat fikirannya melayang jauh tentang dosa –dosanya
karena belum berbakti kepada orang tua, tiba –tiba terdengar ketukan pintu dan
salam dari luar rumah kang Udin. Rupanya Syamsul yang datang.
Setelah basa – basi sebentar, kang Udinpun sedikit
menceritakan permasalahan Parto, ini hal biasa karena mereka sudah selayaknya
seperti saudara sendiri, sehingga sering saling mengingatkan diantara satu
dengan yang lainnya.
Sesaat kemudian, Syamsulpun ikut bercerita :
“Betul kang Udin, seandainya saja kedua orang tua saya masih
hidup semua permintaannya sepanjang saya mampu kerjakan dan tidak bertentangan
dengan syariat pasti akan saya lakukan. Namun apa boleh buat…. Kedua orang tua
saya sudah tiada. rasa menyesal itu benar – benar lebih terasa disaat mereka
semua telah tiada kang ?”
Mendengar keluhan tersebut, kang Udin ikut menambahi .
“Kita masih mempunyai kewajiban kepada kedua orang tua kita,
walaupun beliau sudah meninggal ?” kata kang Udin.
“Bagaimana itu kang Udin ?” tanya Syamsul
Kang Udinpun menjelaskan :
“Dalam suatu hadist dikisahkan bahwa suatu ketika datang
seseorang menghadap Rasulullah SAW kemudian berkata “Ya Rasulullah apakah masih
ada kesempatan untuk berbakti aku kepada orang tuaku setelah keduanya meninggal
dunia?” Rasulullah dengan tegas menjawab “Ya, masih ada”. Ada 5 hal yang harus
dijalankan setelah kepada seorang anak agar berbakti kepada orang tua yang
telah meninggal :
Asshalatu ‘alaihima (berdo’a untuk keduanya),
Wal isthigfaru lahuma (memohonkan ampun keduanya),
Wainfadzu ahdihima (melaksanakan janji-janjinya),
Waiqramu shadiqihima (memuliakan teman-teman keduanya),
Wasilaturrahimmisilati latu shallu illa bihima (silaturrahmi
kepada orang-orang yang tidak ada hubungan silaturahmi kecuali melalui wasilah
kedua orang tua)”
Setelah mendengar uraian kang Udin, Syamsulpun terlihat
tertunduk, sementara di sisi lain, Parto semakin terdiam dan
membisu.http://www.rumah-yatim-indonesia.org



Tidak ada komentar:
Posting Komentar