CERPEN
Senin, 05 Februari 2018
Rabu, 12 Agustus 2015
BERTERIAK = MEMBUNUH KARAKTER
BERTERIAK = MEMBUNUH KARAKTER
Mau Bukti ?
Kali ini, saya ingin bercerita tentang salah satu kebiasaan yang ditemui pada penduduk yang tinggal di sekitar kepulauan Solomon, yang letaknya di Pasifik Selatan. Nah, penduduk primitif yang tinggal di sana punya sebuah kebiasaan yang menarik yakni meneriaki pohon. Untuk apa? Kebisaan ini ternyata mereka lakukan apabila terdapat pohon dengan akar-akar yang sangat kuat dan sulit untuk dipotong dengan kapak.
Inilah yang mereka lakukan, dengan tujuannya supaya pohon itu mati.
Caranya adalah, beberapa penduduk yang lebih kuat dan berani akan memanjat hingga ke atas pohon itu. Lalu, ketika sampai di atas pohon itu bersama dengan penduduk yang ada di bawah pohon, mereka akan berteriak sekuat-kuatnya kepada pohon itu. Mereka lakukan teriakan berjam-jam, selama kurang lebih empat puluh hari. Dan, apa yang terjadi sungguh menakjubkan. Pohon yang diteriaki itu perlahan-lahan daunnya mulai mengering. Setelah itu dahan-dahannya juga mulai rontok dan perlahan-lahan pohon itu akan mati dan mudah ditumbangkan.
Kalau diperhatikan apa yang dilakukan oleh penduduk primitif ini sungguhlah aneh. Namun kita bisa belajar satu hal dari mereka. Mereka telah membuktikan bahwa teriakan-teriakan yang dilakukan terhadap mahkluk hidup seperti pohon akan menyebabkan benda tersebut kehilangan rohnya. Akibatnya, dalam waktu singkat, makhluk hidup itu akan mati.
Nah, sekarang, Yang jelas dan perlu diingat bahwa setiap kali Anda berteriak kepada mahkluk hidup tertentu maka berarti Anda sedang mematikan rohnya.
Pernahkah Anda berteriak pada anak Anda? orang dikeliling anda atau siapapun?
Ayo cepat ! cepetaaaaaan !
Dasar lelet ! Kayak keong aja lu !
Bego banget sih ! Begitu aja nggak bisa dikerjakan ?
Jangan main-main disini !
Berisiiiiiiiiiik ! diem, diem,diem ! aaaaah!
Atau, mungkin Anda pun berteriak balik kepada pasangan hidup Anda karena Anda merasa sakit hati ?
suami/istri seperti kamu nggak tahu diri ! ngaca dong ngaca !
Bodoh banget jadi laki/bini nggak bisa apa-apa ! bisanya Cuma minta,minta dan minta !
Aduuuuh, perempuan / laki kampungan banget siiiih !? gak makan sekolahan apa ?!
Atau, bisa seorang guru berteriak pada anak didiknya :
Goblok…!! soal mudah begitu aja nggak bisa ngerjain ! Kapan kamu jadi pinter ?!
Atau seorang atasan berteriak pada bawahannya saat merasa kesal :
?Eh tahu nggak ?! Karyawan kayak kamu tuh kalo pergi aku nggak bakal nyesel !
Ada banyak yang bisa gantiin kamu !
Sial ! Kerja gini nggak becus ? Ngapain gue gaji elu ?
Ingatlah! Setiap kali Anda berteriak pada seseorang karena merasa jengkel, marah, terhina, terluka ingatlah dengan apa yang diajarkan oleh penduduk kepulauan Solomon ini. Mereka mengajari kita bahwa setiap kali kita mulai berteriak, kita mulai mematikan roh pada orang yang kita cintai. Kita juga mematikan roh yang mempertautkan hubungan kita. Teriakan-teriakan, yang kita keluarkan karena emosi-emosi kita perlahan -lahan, pada akhirnya akan membunuh roh yang telah melekatkan hubungan Kita
Dalam kehidupan sehari-hari. Teriakan, hanya di berikan tatkala kita bicara dengan orang yang jauh jaraknya, benar?
Nah, mengapa orang yang marah dan emosional mengunakan teriakan-teriakan padahal jarak mereka dekat bahkan hanya bisa dihitung dalam centimeter ?
Pada realitanya, meskipun secara fisik dekat tapi sebenarnya hati begitu jauh. Itulah sebabnya mereka harus saling berteriak! Selain itu, dengan berteriak, tanpa sadar mereka pun mulai berusaha melukai serta mematikan roh orang yang dimarahi karena perasaan-perasaan dendam, benci atau kemarahan yang dimiliki. Kita berteriak karena kita ingin melukai, kita ingin membalas.
Jadi mulai sekarang Jika Kita tetap ingin roh pada orang yang Kita sayangi tetap tumbuh, berkembang dan tidak mati, janganlah menggunakan teriakan-teriakan. Dengan berteriak kepada orang lain ada dua kemungkinan balasan yang Kita akan terima. Kita akan dijauhi atau Kita akan mendapatkan teriakan balik, sebagai balasannya.
Dari Anas r.a., “Aku telah melayani Rasulullah SAW selama 10 tahun. Demi Allah beliau tidak pernah mengeluarkan kata-kata hardikan kepadaku, tidak pernah menanyakan : ‘Mengapa engkau lakukan?’ dan pula tidak pernah mengatakan: ‘Mengapa tidak engkau lakukan?’”
(HR Bukhari, Kitabul Adab 5578, Muslim, Kitabul Fadhail 4269 )
Dari Jarir bin Abdullah r.a.: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang tidak dikaruniai sifat lemah-lembut, maka ia tidak dikarunia segala macam kebaikan." (HR. Muslim)
Ath-Thabrani, dengan sanad dari Abu Darda’ ra, meriwayatkan bahwa seorang laki-laki telah datang kepada Rasulullah saw mengadukan hatinya yang keras, maka beliau saw bersabda, “Apakah kamu suka jika hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu terpenuhi? Sayangilah anak yatim, usaplah kepalanya, dan berilah ia makan dari makananmu niscaya hatimu menjadi lunak dan kebutuhamu terpenuhi.” (HR. Ath-Thabrani. Lihat Al-Matjar Ar-Rabih Al-Hafizh Ad-Dimyathi No.1509)
Kali ini, saya ingin bercerita tentang salah satu kebiasaan yang ditemui pada penduduk yang tinggal di sekitar kepulauan Solomon, yang letaknya di Pasifik Selatan. Nah, penduduk primitif yang tinggal di sana punya sebuah kebiasaan yang menarik yakni meneriaki pohon. Untuk apa? Kebisaan ini ternyata mereka lakukan apabila terdapat pohon dengan akar-akar yang sangat kuat dan sulit untuk dipotong dengan kapak.
Inilah yang mereka lakukan, dengan tujuannya supaya pohon itu mati.
Caranya adalah, beberapa penduduk yang lebih kuat dan berani akan memanjat hingga ke atas pohon itu. Lalu, ketika sampai di atas pohon itu bersama dengan penduduk yang ada di bawah pohon, mereka akan berteriak sekuat-kuatnya kepada pohon itu. Mereka lakukan teriakan berjam-jam, selama kurang lebih empat puluh hari. Dan, apa yang terjadi sungguh menakjubkan. Pohon yang diteriaki itu perlahan-lahan daunnya mulai mengering. Setelah itu dahan-dahannya juga mulai rontok dan perlahan-lahan pohon itu akan mati dan mudah ditumbangkan.
Kalau diperhatikan apa yang dilakukan oleh penduduk primitif ini sungguhlah aneh. Namun kita bisa belajar satu hal dari mereka. Mereka telah membuktikan bahwa teriakan-teriakan yang dilakukan terhadap mahkluk hidup seperti pohon akan menyebabkan benda tersebut kehilangan rohnya. Akibatnya, dalam waktu singkat, makhluk hidup itu akan mati.
Nah, sekarang, Yang jelas dan perlu diingat bahwa setiap kali Anda berteriak kepada mahkluk hidup tertentu maka berarti Anda sedang mematikan rohnya.
Pernahkah Anda berteriak pada anak Anda? orang dikeliling anda atau siapapun?
Ayo cepat ! cepetaaaaaan !
Dasar lelet ! Kayak keong aja lu !
Bego banget sih ! Begitu aja nggak bisa dikerjakan ?
Jangan main-main disini !
Berisiiiiiiiiiik ! diem, diem,diem ! aaaaah!
Atau, mungkin Anda pun berteriak balik kepada pasangan hidup Anda karena Anda merasa sakit hati ?
suami/istri seperti kamu nggak tahu diri ! ngaca dong ngaca !
Bodoh banget jadi laki/bini nggak bisa apa-apa ! bisanya Cuma minta,minta dan minta !
Aduuuuh, perempuan / laki kampungan banget siiiih !? gak makan sekolahan apa ?!
Atau, bisa seorang guru berteriak pada anak didiknya :
Goblok…!! soal mudah begitu aja nggak bisa ngerjain ! Kapan kamu jadi pinter ?!
Atau seorang atasan berteriak pada bawahannya saat merasa kesal :
?Eh tahu nggak ?! Karyawan kayak kamu tuh kalo pergi aku nggak bakal nyesel !
Ada banyak yang bisa gantiin kamu !
Sial ! Kerja gini nggak becus ? Ngapain gue gaji elu ?
Ingatlah! Setiap kali Anda berteriak pada seseorang karena merasa jengkel, marah, terhina, terluka ingatlah dengan apa yang diajarkan oleh penduduk kepulauan Solomon ini. Mereka mengajari kita bahwa setiap kali kita mulai berteriak, kita mulai mematikan roh pada orang yang kita cintai. Kita juga mematikan roh yang mempertautkan hubungan kita. Teriakan-teriakan, yang kita keluarkan karena emosi-emosi kita perlahan -lahan, pada akhirnya akan membunuh roh yang telah melekatkan hubungan Kita
Dalam kehidupan sehari-hari. Teriakan, hanya di berikan tatkala kita bicara dengan orang yang jauh jaraknya, benar?
Nah, mengapa orang yang marah dan emosional mengunakan teriakan-teriakan padahal jarak mereka dekat bahkan hanya bisa dihitung dalam centimeter ?
Pada realitanya, meskipun secara fisik dekat tapi sebenarnya hati begitu jauh. Itulah sebabnya mereka harus saling berteriak! Selain itu, dengan berteriak, tanpa sadar mereka pun mulai berusaha melukai serta mematikan roh orang yang dimarahi karena perasaan-perasaan dendam, benci atau kemarahan yang dimiliki. Kita berteriak karena kita ingin melukai, kita ingin membalas.
Jadi mulai sekarang Jika Kita tetap ingin roh pada orang yang Kita sayangi tetap tumbuh, berkembang dan tidak mati, janganlah menggunakan teriakan-teriakan. Dengan berteriak kepada orang lain ada dua kemungkinan balasan yang Kita akan terima. Kita akan dijauhi atau Kita akan mendapatkan teriakan balik, sebagai balasannya.
Dari Anas r.a., “Aku telah melayani Rasulullah SAW selama 10 tahun. Demi Allah beliau tidak pernah mengeluarkan kata-kata hardikan kepadaku, tidak pernah menanyakan : ‘Mengapa engkau lakukan?’ dan pula tidak pernah mengatakan: ‘Mengapa tidak engkau lakukan?’”
(HR Bukhari, Kitabul Adab 5578, Muslim, Kitabul Fadhail 4269 )
Dari Jarir bin Abdullah r.a.: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang tidak dikaruniai sifat lemah-lembut, maka ia tidak dikarunia segala macam kebaikan." (HR. Muslim)
Ath-Thabrani, dengan sanad dari Abu Darda’ ra, meriwayatkan bahwa seorang laki-laki telah datang kepada Rasulullah saw mengadukan hatinya yang keras, maka beliau saw bersabda, “Apakah kamu suka jika hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu terpenuhi? Sayangilah anak yatim, usaplah kepalanya, dan berilah ia makan dari makananmu niscaya hatimu menjadi lunak dan kebutuhamu terpenuhi.” (HR. Ath-Thabrani. Lihat Al-Matjar Ar-Rabih Al-Hafizh Ad-Dimyathi No.1509)
TEMPE OH TEMPE
Tempe
Oh Tempe
(
Allah Lebih Tahu Apa Yang Kita Butuh Saat ini )
Di
Karangayu, sebuah desa di Kendal, Jawa Tengah, hiduplah seorang ibu penjual
tempe.
Tak
ada pekerjaan lain yang dapat dia lalukan sebagai penyambung hidup.
Meski
demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dari bibirnya. Ia jalani hidup dengan
riang. "Jika tempe ini yang nanti mengantarku ke surga, kenapa aku harus
menyesalinya. .." demikian dia selalu memaknai hidupnya.
Suatu
pagi, setelah salat subuh, dia pun berkemas. Mengambil keranjang bambu tempat
tempe, dia berjalan ke dapur. Diambilnya tempe-tempe yang dia letakkan di atas
meja panjang. Tapi, deg! dadanya gemuruh.Tempe yang akan dia jual, ternyata
belum jadi. Masih berupa kacang kedelai, sebagian berderai, belum disatukan
ikatan-ikatan putih kapas dari peragian.
Tempe
itu masih harus menunggu satu hari lagi untuk jadi. Tubuhnya lemas. Dia
bayangkan, hari ini pasti dia tidak akan mendapatkan uang, untuk makan, dan
modal membeli kacang kedelai, yang akan dia olah kembali menjadi tempe.
Di
tengah putus asa,terbersit harapan di dadanya. Dia tahu, jika meminta kepada
Allah,
pasti
tak akan ada yang mustahil. Maka, di tengadahkan kepala, dia angkat tangan, dia
baca doa. "Ya Allah, Engkau tahu kesulitanku. Aku tahu Engkau pasti
menyayangi hamba-Mu yang hina ini.
Bantulah
aku ya Allah, jadikanlah kedelai ini menjadi tempe. Hanya kepada-Mu kuserahkan
nasibku..." Dalam hati, dia yakin, Allah akan mengabulkan doanya.
Dengan
tenang, dia tekan dan mampatkan daun pembungkus tempe. Dia rasakan hangat yang
menjalari daun itu. Proses peragian memang masih berlangsung. Dadanya gemuruh.
Dan pelan, dia buka daun pembungkus tempe. Dan... dia kecewa. Tempe itu masih
belum juga berubah. Kacang kedelainya belum semua menyatu oleh kapas-kapas ragi
putih. Tapi, dengan memaksa senyum, dia berdiri. Diayakin, Allah pasti sedang
"memproses" doanya. Dan tempe itu pasti akan jadi.
Dia
yakin, Allah tidak akan menyengsarakan hambanya yang setia beribadah. Sambil
meletakkan semua tempe setengah jadi itu ke dalam keranjang,dia berdoa lagi.
"Ya Allah, aku tahu tak pernah ada yang mustahil bagi-Mu. Engkau Maha
Tahu, bahwa tak ada yang bisa aku lakukan selain berjualan tempe. Karena itu ya
Allah, jadikanlah.Bantulah aku, kabulkan doaku..."
Sebelum
mengunci pintu dan berjalan menuju pasar, dia buka lagi daun pembungkus
tempe.Pasti telah jadi sekarang, batinnya. Dengan berdebar, dia intip dari daun
itu, dan... belum jadi.
Kacang
kedelai itu belum sepenuhnya memutih. Tak ada perubahan apa pun atas ragian
kacang kedelai tersebut. "Keajaiban Tuhan akan datang... pasti,"
yakinnya.
Dia
pun berjalan ke pasar. Di sepanjang perjalanan itu, dia yakin,
"tangan" Tuhan tengah bekerja untuk mematangkan proses peragian atas
tempe-tempenya. Berkali-kali dia dia memanjatkan doa... berkali-kali dia
yakinkan diri, Allah pasti mengabulkan doanya.
Sampai
di pasar, di tempat dia biasa berjualan, dia letakkan keranjang-keranjang itu.
"Pasti sekarang telah jadi tempe!" batinnya. Dengan berdebar, dia
buka daun pembungkus tempe itu, pelan-pelan. Dan... dia terlonjak. Tempe itu
masih tak ada perubahan. Masih sama seperti ketika pertama kali dia buka di
dapur tadi.
Air
mata menitiki keriput pipinya. Kenapa doaku tidak dikabulkan? Kenapa tempe ini
tidak jadi? Apakah Tuhan ingin aku menderita? Apa salahku? Demikian batinnya
berkecamuk.
Dengan
lemas, dia gelar tempe-tempe setengah jadi itu di atas plastik yang telah dia
sediakan. Tangannya lemas, tak ada keyakinan akan ada yang mau membeli tempenya
itu. Dan dia tiba-tiba merasa lapar... merasa sendirian. Tuhan telah
meninggalkan aku, batinnya.
Airmatanya
kian menitik. Terbayang esok dia tak dapat berjualan... esok dia pun tak akan
dapat makan. Dilihatnya kesibukan pasar, orang yang lalu lalang, dan
"teman-temannya" sesama penjual tempe di sisi kanan dagangannya yang
mulai berkemas. Dianggukinya mereka yang pamit, karena tempenya telah laku.
Kesedihannya mulai memuncak. Diingatnya, tak pernah dia mengalami kejadian ini.
Tak pernah tempenya tak jadi. Tangisnya kian keras. Dia merasa cobaan itu
terasa berat...
Di
tengah kesedihan itu, sebuah tepukan menyinggahi pundaknya. Dia memalingkan
wajah, seorang perempuan cantik, paro baya, tengah tersenyum, memandangnya.
"Maaf Ibu, apa ibu punya tempe yang setengah jadi? Capek saya sejak pagi
mencari-cari di pasar ini, tak ada yang menjualnya. Ibu punya?"
Penjual
tempe itu bengong. Terkesima. Tiba-tiba wajahnya pucat. Tanpa menjawab
pertanyaan si ibu cantik tadi, dia cepat menadahkan tangan. "Ya Allah,
saat ini aku tidak ingin tempe itu jadi. Jangan engkau kabulkan doaku yang
tadi. Biarkan sajalah tempe itu seperti tadi, jangan jadikan tempe..."
Lalu segera dia mengambil tempenya. Tapi, setengah ragu, dia letakkan lagi.
"jangan-jangan, sekarang sudah jadi tempe..."
"Bagaimana
Bu? Apa ibu menjual tempe setengah jadi?" tanya perempuan itu lagi.
Kepanikan
melandanya lagi. "Duh Gusti... bagaimana ini? Tolonglah ya Allah, jangan
jadikan tempe ya?" ucapnya berkali-kali. Dan dengan gemetar, dia buka
pelan-pelan daun pembungkus tempe itu. Dan apa yang dia lihat, sahabat?? Di
balik daun yang hangat itu, dia lihat tempe yang masih sama. Belum jadi!
"Alhamdulillah!" pekiknya, tanpa sadar. Segera dia angsurkan tempe
itu kepada si pembeli.
Sembari
membungkus, dia pun bertanya kepada si ibu cantik itu. "Kok Ibu aneh ya,
mencari tempe kok yang belum jadi?"
"Oohh,
bukan begitu, Bu. Anak saya, si Shalauddin, yang kuliah S2 di Australia
ingin
sekali makan tempe, asli buatan sini. Nah, agar bisa sampai sana belum busuk,
saya pun mencari tempe yang belum jadi. Jadi, saat saya bawa besok, sampai sana
masih layak dimakan. Oh ya, jadi semuanya berapa, Bu?"
--------------------------------------------------------------------------------
Sahabat……Dalam
kehidupan sehari-hari, kita acap berdoa, dan "memaksakan" Allah
memberikan apa yang menurut kita paling cocok untuk kita. Dan jika doa kita
tidak dikabulkan, kita merasa diabaikan, merasa kecewa dan merasa ditinggalkan
Padahal, Allah paling tahu apa yang paling cocok untuk kita. Bahwa semua
rencananya adalah SEMPURNA.
Banyak
orang yang merasa frustasi karena kenyataan mereka tidak sesuai
dengan
impian. Sebagai contoh, ada seorang anak yang ingin kuliah di Universitas A,
tapi
nyatanya
biaya tidak mencukupi. Atau, mereka yg
merantau ke kota besar, bermimpi ingin mendapatkan pekerjaan berkelas nasional
bahkan internasional, tapi nyatanya yang didapatkan hanyalah pekerjaan
biasa-biasa saja & apa adanya.
Ada
juga seorang pengusaha, yg mungkin mengharapkan kenaikan profit 10 kali,
malah
mengalami kebangkrutan. Apa yang kita harapkan, kadang memang
tidak
sesuai dengan kenyataan. Lalu apa yang harus kita lakukan?
Berikut
adalah 3 langkah atau tips yang bisa Kita lakukan saat mimpi tidak
sesuai
dengan kenyataan:
1.
Bertindaklah selalu secara fleksibel dan dinamis Jika Anda betul-betul ingin menggapai
kesuksesan, maka diperlukan *kesiapan* untuk bisa bertindak secara fleksible
dan
dinamis terhadap setiap perubahan yang terjadi.
Saat
ada badai atau angin topan yang besar, tidak jarang kita melihat pohon
yang
memiliki batang yang sangat besar
tumbang! Apa sebab? Sebab mereka
tidak kuat menahan beban yang diterima.
Namun
coba tengoklah bambu! Karena batangnya yang lentur, maka bambu bisa
fleksibel
bergerak ke segala arah, dan jarang tumbang!
Nah,
begitu pun dengan kita! Jika kita bertindak dan berpikir dinamis dan juga
fleksibel,
maka kita akan lebih tahan dalam menghadapi tantangan dan
perubahan
serta masalah yang datang.
2.
Berpikirlah bahwa INILAH yang terbaik
untuk kita! , Yakinlah bahwa apa
yang sedang terjadi adalah yang terbaik untuk kita. Kita tidak pernah tahu
skenario yang telah ditetapkan-Nya. Karena, segala sesuatu yang menurut logika
kita baik, bisa jadi justru
sebaliknya
di mata Tuhan! Dan jangan pernah berhenti untuk berdo’a sebagaimana nenek
Penjual Tempe diatas, sudah jelas-jelas pertolongan sudah di depan mata, tapi
dia tetap berdo’a.
3.
Siapkan MENTAL PEMENANG! Saat kita mengalami kegagalan, lebih
baik
instropeksi diri daripada menyalahkan takdir. Siapa tahu, kita
memang
belum siap jadi pemenang!
Bisa
jadi kesuksesan hanya akan membuat kita menjadi sombong, dan karena saking
sayangnya
Tuhan kepada kita, Ia tidak mau hamba-Nya berbuat dosa.
Rejeki
dan kemenangan itu sungguh tidak terkira banyaknya dari Tuhan, masih
banyak
yang menggantung di langit! :Sekarang tinggal bagaimana cara kita!
Apakah
mau meraihnya? atau mengharapkan turun dengan sendirinya?
Saya
sarankan, jangan pernah memilih yang kedua,
Kita semua tahu bahwa yang namanya kemenangan itu seringkali dimiliki
oleh mereka yang tdk pernah berhenti berusaha!
Terkadang
Tuhan menutup pintu yang satu, untuk membuka pintu yang lain.
Mari
Kita Raih Kesuksesan Bersama Rumah Yatim Indonesia
Berbakti Kepada Orang Tua Yang Sudah Meninggal
Berbakti Kepada Orang Tua Yang Sudah Meninggal
(Bagaimana caranya)
dibawah ini sebuah kisah untuk para sahabat yang bertanya
kepada kami Bagaimana cara berbakti kepada orang tua kita yang sudah
meninggal………….
Parto masih tertunduk lemas, bukan karena memikirkan lesu
bisnis angkudesnya namun lemas karena merasa belum berbakti kepada orang
tuanya, khususnya ibunya. Saat fikirannya melayang jauh tentang dosa –dosanya
karena belum berbakti kepada orang tua, tiba –tiba terdengar ketukan pintu dan
salam dari luar rumah kang Udin. Rupanya Syamsul yang datang.
Setelah basa – basi sebentar, kang Udinpun sedikit
menceritakan permasalahan Parto, ini hal biasa karena mereka sudah selayaknya
seperti saudara sendiri, sehingga sering saling mengingatkan diantara satu
dengan yang lainnya.
Sesaat kemudian, Syamsulpun ikut bercerita :
“Betul kang Udin, seandainya saja kedua orang tua saya masih
hidup semua permintaannya sepanjang saya mampu kerjakan dan tidak bertentangan
dengan syariat pasti akan saya lakukan. Namun apa boleh buat…. Kedua orang tua
saya sudah tiada. rasa menyesal itu benar – benar lebih terasa disaat mereka
semua telah tiada kang ?”
Mendengar keluhan tersebut, kang Udin ikut menambahi .
“Kita masih mempunyai kewajiban kepada kedua orang tua kita,
walaupun beliau sudah meninggal ?” kata kang Udin.
“Bagaimana itu kang Udin ?” tanya Syamsul
Kang Udinpun menjelaskan :
“Dalam suatu hadist dikisahkan bahwa suatu ketika datang
seseorang menghadap Rasulullah SAW kemudian berkata “Ya Rasulullah apakah masih
ada kesempatan untuk berbakti aku kepada orang tuaku setelah keduanya meninggal
dunia?” Rasulullah dengan tegas menjawab “Ya, masih ada”. Ada 5 hal yang harus
dijalankan setelah kepada seorang anak agar berbakti kepada orang tua yang
telah meninggal :
Asshalatu ‘alaihima (berdo’a untuk keduanya),
Wal isthigfaru lahuma (memohonkan ampun keduanya),
Wainfadzu ahdihima (melaksanakan janji-janjinya),
Waiqramu shadiqihima (memuliakan teman-teman keduanya),
Wasilaturrahimmisilati latu shallu illa bihima (silaturrahmi
kepada orang-orang yang tidak ada hubungan silaturahmi kecuali melalui wasilah
kedua orang tua)”
Setelah mendengar uraian kang Udin, Syamsulpun terlihat
tertunduk, sementara di sisi lain, Parto semakin terdiam dan
membisu.http://www.rumah-yatim-indonesia.org
Langganan:
Komentar (Atom)














